Agama Sebagai Candu
Oleh: Abdul Gaffar
“Agama adalah Candu” adalah kalimat yang sangat singkat sekaligus provokatif khususnya bagi umat beragama.
Fenomena yang terjadi belakangan ini seperti kasus hukum, terorisme, dan pencucian otak ala NII tentu menggugah kita untuk mempertanyakan kembali kalimat dari Karl Marx, sosiolog sekaligus filososf asal Jerman tersebut.
Hal ini dikarenakan betapa pentingnya pemahaman agama yang berbanding lurus dengan realitas kehidupan sehari-hari, artinya sebagai bangsa yang menganut pancasila yang mengaku adanya tuhan harus melakukan refleksi atas praktik keagamaan yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan agama yang dianut oleh masyarakat di semua aspek kehidupannya.
Representasi nilai-nilai agama yang terkandung dalam pancasila butuh penyegaran kembali atau penegasan dari para tokoh-tokoh agama guna memerangi fenomena yang terjadi akhir-akhir ini.
Realitas umat beragama
Dalam sejarah setiap turunnya, agama telah membuktikan bahwa semua agama anti kekerasan, anti korupsi dan anti segala bentuk perbuatan yang menyebabkan kerugian bagi orang banyak. Itulah sebabnya kenapa pendiri bangsa ini sepakat menjadikan pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang mampu mengakomodir segala kepentingan semua golongan tanpa adanya diskrimanisi dan golongan yang dinomorduakan yang akan mengakibatkan ketidakadilan bagi golongan tertentu.
Namun melihat fenomena yang terjadi di Negara kita belakangan ini rasanya roh nilai-nilai semua agama yang tercantum dalam pancasila mulai luntur bahkan seakan hilang sehingga kita tidak lagi mempnuyai pijakan dasar dalam menjalankan bangsa yang beradab yang jauh dari segala manipulasi duniawi dan keadilan bagi segenap komponen bangsa.
Seperti yang kita ketahui Agama diturunkan bukanlah sebagai opium yang mampu menjanjikan manusia kenikmatan sesaat yang akan membawa manusia keluar dari segala masalah yang dihadapinya, namun agama diturunkan sebagai pedoman bagi manusia untuk menuju tuhan yang diyakini. Melalui kitab sucinya, agama menawarkan cara-cara yang sempurana kepada semua umatnya bagaimana cara menjalankan kehidupan dunia maupun akhirat. Semua agama pada dasarnya mengajarkan semua yang baik, tidak ada satupun agama yang membolehkan kekerasan, tidaka ada satupun agama yang membenarkan umatnya mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Kalimat agama adalah candu jika dipertentangkan langsung dengan kitab-kitab suci agama tentu tidak akan menemukan relevansinya, namun kalau kita mau melihat secara obyektif kalimat tersebut akan menemukan kebenarannya. Sebagaimana latarbelakangnya sebagai seorang sosiolog dan filosof tentu Marx akan melihat realitas kehidupan masyarakat dalam konteks kehidupan bernegara dimana semua golongan akan bersentuhan secara langsung satu sama lain bukan secara normatif seperti para Pendeta di Gereja ataupun Dai yang ada di Masjid.
Secara sosiologis kita melihat realitas kehidupan umat beragama kadang jauh dari ajaran-ajaran dasar yang mereka anut, agama dalam relaitasnya lebih banyak digunakan sebagai obat penenang yang mampu mengobati segala penyakit sosial sesaat, sekaligus sebagai sandaran untuk mencari pembenaran atas kesalahan yang telah dilakukan melaui ibadah-ibadah ragawi yang dilaksanakana secra rutinitas.
Tentu seperti yang kita ketahuai agama datang karena sebuah kebutuhan akan pentingnya petunjuk bagi semua umat manusia untuk menjalankan segala aktivitasnya dengan benar tanpa harus merugikan orang lain, akan tetapi seperti yang kita lihat sejarah semua agama dari sejak adanya agama tersebut sampai sekarang telah membuktikan betapa agama sering digunakan atau dimanipulasi oleh kelompok tertentu untuk memperoleh keuntungan atau menghindar dari kesalahan yang telah dilakukannya.
Jika dipertentangkan dengan relaitas yang ada pada masyarakat dan dipertegas denga filosofi turunnya agama, kalimat agama adalah candu tentu akan menemukan relevansinya dalam konteks sekarang, karena kalau kita lihat fakta bahwa agama sering tidak dilihat secara benar, namun agama dilihat sesuai dengan seleranya sehingga agama hanya sebagai tempat pembenaran semata atau sebagai tempat penenang bagi umat yang mengaku beragama.
Terorisme, pencucian otak oleh kelompok NII adalah salah satu bukti bahwa realitas agama yang digunakan untuk obat penenang dalam menghadapi permasalahan kehidupan, sehingga tidak salah secara sosiologis konteks sekarang agama adalah candu menemukan titik temunya. Sedangakan tragedi hukum yang diwarnai dengan manipulasi hukum untuk kepentingan pribadi maupun kelompok dan merajalelanya korupsi adalah bukti nyata bahwa agama berjalan ditengah para penganutnya sebagai candu atau obat penennag bahkan agama dijadikan sebagai tempat pembenaran tindakan yang melanggar dasar-dasar ajaran agama yang dianutnya.